Bisnis · 23 October 2026, 07:26 WIB
Ringkasan
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Dewijanti menyebut pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,69 persen, level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Ia menilai capaian ini modal besar menopang ekonomi nasional.
JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Dewijanti menyebutkan kredit perbankan tumbuh 13,69 persen pada September 2026, atau tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Capaian tersebut menurutnya menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga tingginya suku bunga dan inflasi.
Menurut Friderica, pertumbuhan kredit yang tinggi menjadi modal penting untuk menopang aktivitas perekonomian nasional. Terlebih, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga telah mencapai level dua digit. Kombinasi kredit yang ekspansif dan DPK yang kuat menunjukkan perbankan nasional masih punya ruang untuk terus menyalurkan pembiayaan ke sektor riil.
Angka Kredit per Kelompok
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), kredit perbankan pada September 2026 tumbuh 13,26 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 23,2 persen, kredit modal kerja sebesar 11,89 persen, serta kredit konsumsi sebesar 4,86 persen. Angka kredit investasi menjadi yang paling menonjol di antara tiga kelompok tersebut.
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro menjelaskan, pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi dan modal kerja yang tumbuh tinggi. Sebagian besar pembiayaan tersebut disalurkan kepada sektor swasta. Ia menilai hal itu menunjukkan ada perbaikan-perbaikan di sektor riil, yang menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional.
Sektor yang Paling Menyerap Kredit
Menurut Friderica, capaian kredit tersebut tidak lepas dari kepercayaan pelaku usaha terhadap arah ekonomi nasional. Ia menilai pertumbuhan yang tinggi itu modalitas besar mendukung perekonomian, terutama karena pembiayaan mulai mengalir ke sektor-sektor yang menghasilkan barang dan jasa. Hal ini berbeda dengan pertumbuhan kredit yang hanya berputar di sektor keuangan saja.
Secara sektoral, pertumbuhan kredit juga terlihat kuat di sejumlah bidang usaha. Industri pengolahan mencatat pertumbuhan kredit sebesar 14,6 persen, industri pertambangan 15,1 persen, serta sektor konstruksi 10,6 persen. Solikin menilai perkembangan tersebut menunjukkan peluang penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif masih terbuka lebar, dan kinerja kredit korporasi juga menunjukkan perbaikan.
Di sisi lain, Friderica tidak merinci lebih lanjut faktor apa saja yang menopang pertumbuhan kredit hingga mencapai level tersebut. Data BI sendiri menunjukkan pertumbuhan itu konsisten, dengan kredit investasi dan modal kerja menjadi dua pilar utama yang paling agresif menyerap pembiayaan dari perbankan nasional.
Likuiditas Perbankan Masih Memadai
Dari sisi pendanaan, BI melihat kondisi likuiditas perbankan masih memadai untuk mendukung ekspansi kredit. Solikin menyatakan secara umum fungsi intermediasi perbankan ke depan akan terus membaik, ditopang oleh ketahanan sektor keuangan yang juga terjaga dengan baik sehingga pertumbuhan kredit bisa berjalan lebih berkelanjutan.
Artinya, lonjakan kredit ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal bahwa perbankan masih punya nafsu untuk membiayai ekonomi riil. Namun, implikasinya juga perlu diwaspadai: pertumbuhan kredit yang terlalu cepat tanpa pengawasan kualitas bisa menimbulkan risiko. Jadi, yang perlu dijaga bukan hanya besaran pertumbuhannya, tetapi juga mutu penyaluran dan ketahanan sektor keuangannya.
Sumber Berita
Pertanyaan yang Sering Muncul
Berapa pertumbuhan kredit perbankan September 2026?
Menurut BI, kredit perbankan September 2026 tumbuh 13,26 persen year-on-year. OJK menyebut angka pertumbuhan kredit secara keseluruhan mencapai 13,69 persen, tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Kredit apa yang tumbuh paling tinggi?
Kredit investasi tumbuh paling tinggi, yaitu 23,2 persen, disusul kredit modal kerja 11,89 persen dan kredit konsumsi 4,86 persen. Kredit investasi menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut.
Apakah likuiditas perbankan cukup untuk kredit sebesar ini?
BI menyatakan likuiditas perbankan masih memadai untuk mendukung ekspansi kredit. Fungsi intermediasi perbankan diproyeksikan terus membaik ditopang ketahanan sektor keuangan yang terjaga.
Kalau kamu ingin berita terbaru di topik ini, coba ikuti label terkait di bawah.
OJK Kredit Perbankan BI Ekonomi— Ditulis oleh Chacha —
Labels: OJK, Kredit Perbankan, BI, Ekonomi
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!