Teknologi · 23 October 2026, 07:09 WIB
Ringkasan
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan keamanan siber adalah investasi strategis, bukan sekadar biaya. Indonesia disebut masih rawan menghadapi gelombang serangan digital yang makin canggih.
JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya penguatan investasi di bidang keamanan siber untuk mengantisipasi ancaman serangan digital, terutama di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pemerintah menilai kemampuan Indonesia memetik manfaat ekonomi dari AI sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, perlindungan data, dan ketersediaan talenta digital yang memadai.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyampaikan hal itu saat berbicara dalam gelaran Cybersecurity and Innovation Exchange (AICX) 2026, bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali. Menurutnya, keamanan siber merupakan investasi strategis untuk pertumbuhan dan inovasi, bukan sekadar pengeluaran yang menggerogoti anggaran setelah teknologi berjalan.
Keamanan Siber Bukan Sekadar Sabuk Pengaman
Edwin menekankan bahwa keamanan siber harus menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi sejak awal melalui prinsip safety by design. Pendekatan ini tidak hanya melindungi pengguna dari risiko serangan siber, tetapi juga menjaga kepercayaan publik dan mendukung pemanfaatan teknologi baru, termasuk AI dan komputasi kuantum yang mulai masuk ke berbagai sektor strategis nasional.
Edwin juga mengingatkan bahwa organisasi yang ingin mengadopsi teknologi baru perlu membangun ekosistem keamanan secara menyeluruh. Upayanya tidak boleh hanya mengandalkan perlindungan setelah risiko muncul, melainkan dilakukan sejak tahap awal perencanaan. Dengan begitu, keamanan menjadi bagian dari proses, bukan langkah darurat ketika masalah sudah terjadi.
AI Harus Dibangun dengan Perlindungan Data
Ia menegaskan, keamanan siber tidak cukup dipahami sebagai sabuk pengaman yang melindungi pengguna ketika terjadi insiden. Lebih dari itu, keamanan siber berperan sebagai sistem pengendali, peringatan, dan navigasi yang membantu organisasi mengelola aktivitas digital serta memastikan data dipindahkan dan digunakan secara aman sesuai peruntukannya.
Ia mencontohkan, kebocoran data dalam skala besar bisa menghapus kepercayaan publik dalam sekali insiden. Karena itu, keamanan siber diposisikan sebagai pengendali yang bekerja sebelum, selama, dan sesudah teknologi dioperasikan. Konsep ini yang menurutnya perlu dipegang pemerintah, perusahaan, maupun penyedia layanan digital agar transformasi digital tidak berjalan tanpa pelindung.
Keamanan data juga menjadi sorotan Edwin dalam konteks pengembangan AI. Kebocoran data disebutnya sebagai salah satu ancaman yang perlu diantisipasi agar pemanfaatan teknologi dapat berlangsung aman. Karena itu, pengembangan AI harus beriringan dengan penguatan perlindungan data dan keamanan siber, bukan ditunda sampai insiden besar terjadi.
SDM Jadi Penentu Transformasi Digital
Selain infrastruktur dan teknologi, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital. Indonesia harus berinvestasi pada pengembangan insinyur AI, profesional keamanan siber, ilmuwan data, pembuat kebijakan, dan tenaga pendidik, serta menjalankan program peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang agar pekerja beradaptasi dengan kebutuhan industri.
Pada akhirnya, keamanan siber bukan soal teknis semata, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap transformasi digital. Jadi, kalau kita ingin AI dan teknologi baru benar-benar memberi manfaat luas, investasi keamanan harus jadi bagian perencanaan sejak awal, bukan langkah penanganan setelah serangan atau kebocoran data terjadi. Itu sebabnya Komdigi menyebutnya investasi strategis.
Sumber Berita
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa yang dimaksud dengan safety by design?
Safety by design adalah prinsip memasukkan aspek keamanan sejak tahap awal perancangan teknologi, bukan menambahkannya setelah sistem selesai dibangun. Tujuannya agar risiko serangan dan kebocoran data bisa dicegah sejak hulu.
Kenapa keamanan siber disebut investasi strategis?
Karena biaya pemulihan setelah kena serangan jauh lebih mahal daripada pencegahan. Keamanan siber yang kuat juga menjaga kepercayaan publik, yang menjadi modal bagi adopsi teknologi baru seperti AI.
Siapa saja yang dimaksud talenta digital di sini?
Komdigi menyebut insinyur AI, profesional keamanan siber, ilmuwan data, pembuat kebijakan, dan tenaga pendidik. Kelima kelompok ini dipandang perlu untuk membangun ekosistem digital yang aman dan mandiri.
Kalau kamu ingin berita terbaru di topik ini, coba ikuti label terkait di bawah.
Keamanan Siber Komdigi AI Perlindungan Data— Ditulis oleh Chacha —
Labels: Keamanan Siber, Komdigi, AI, Perlindungan Data
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!