Bisnis online · 21 October 2026, 16:18 WIB
Ringkasan
Masyarakat Sumba Timur kini menjual kain tenun lewat Facebook, Instagram, dan WhatsApp setelah 96 menara BTS BAKTI Komdigi beroperasi di 22 kecamatan. Pembeli tidak lagi terbatas wisatawan domestik.
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar bagi masyarakat Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dalam menjual hasil kerajinan. Jika sebelumnya para pedagang banyak mengandalkan wisatawan yang datang langsung, kini pembeli bisa dijangkau melalui ponsel dan media sosial. Facebook, Instagram, hingga WhatsApp menjadi sarana baru untuk menawarkan kain tenun. Pembelinya pun tidak lagi terbatas pada wisatawan domestik, tetapi mulai menjangkau pasar luar negeri.
96 Menara BTS BAKTI di 22 Kecamatan
Perubahan itu salah satunya didukung oleh perkembangan infrastruktur telekomunikasi. Data Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumba Timur per 22 Januari 2026 mencatat 96 menara Base Transceiver Station milik BAKTI Komdigi yang tersebar di 22 kecamatan. Kecamatan Tabundung memiliki jumlah BTS BAKTI terbanyak, yakni 10 unit, disusul Paberiwai dengan tujuh unit. Sementara itu, Kecamatan Kambata Mapambuhang, Mahu, Pandawai, dan Pinu Pahar masing-masing memiliki enam unit. Sebaran menara ini menjadi tulang punggung koneksi di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau sinyal. Jumlah itu penting karena Sumba Timur dikenal sebagai daerah dengan medan berbukit dan jarak antarpermukiman yang jauh, sehingga kehadiran menara bukan sekadar tambahan jaringan, melainkan pintu masuk pertama bagi banyak warga ke internet.
Kisah Mama Kiani dan INACRAFT 2026
Salah satu yang memanfaatkan infrastruktur tersebut adalah Mama Kiani, pedagang kain tenun di Kampung Raja Prailiu, tidak jauh dari pusat Kota Waingapu. Setelah mulai memperkenalkan dan menawarkan kain tenun melalui media sosial, usaha keluarganya mendapat perhatian dan berkesempatan tampil di pameran kerajinan internasional INACRAFT 2026 di Jakarta Convention Center, Senayan, pada 7 hingga 11 Oktober 2026. Ia bercerita bahwa usaha keluarganya kini tidak hanya mengandalkan wisatawan yang datang langsung. Menurutnya, jualan online berjalan berdampingan dengan jualan langsung di rumah. Cerita itu memperlihatkan bahwa ponsel yang tersambung internet bisa menjadi etalase gratis yang menjangkau pembeli di luar pulau, bahkan luar negeri.
Kampung Adat Praiyawang Ikut Merasakan
Cerita serupa ditemukan di Kampung Adat Praiyawang, Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Kampung ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari daerah lain. Sejak tahun lalu, Kampung Adat Praiyawang mendapat fasilitas akses internet melalui program BAKTI Komdigi. Umbu Borung, salah satu tokoh masyarakat setempat, menjelaskan kehadiran fasilitas itu sangat membantu warga, terutama untuk berkomunikasi dan mendukung aktivitas penjualan kain tenun. Internet juga mulai dipakai sebagai sarana pemasaran, dengan Facebook menjadi salah satu kanal andalan warga. Pola yang sama terlihat pada beberapa kampung lain di kabupaten tersebut, di mana warga mulai memadukan penjualan langsung dengan promosi digital setiap hari.
Pelajaran bagi Usaha Kecil
Jadi, masuknya internet ke pelosok Sumba bukan hanya soal sinyal yang lebih kuat atau ponsel yang bisa dibuka lebih cepat. Artinya, ada peluang ekonomi baru yang terbuka bagi perajin dan pedagang kecil untuk menjangkau pembeli yang jauh tanpa harus menunggu kedatangan turis. Pembelajaran dari Sumba Timur menunjukkan bahwa infrastruktur telekomunikasi bisa langsung berdampak pada pendapatan rumah tangga bila masyarakat tahu cara memakainya. Bagi pembaca yang menjalankan usaha kecil, kisah ini menjadi alasan kuat untuk serius memanfaatkan media sosial sebagai etalase jualan, bukan sekadar hiburan di masa depan.
Sumber Berita
- Internet Diam-Diam Bawa Perubahan Besar ke Masyarakat Sumba (CNBC Indonesia)
Pertanyaan yang Sering Muncul
Berapa jumlah menara BTS BAKTI di Sumba Timur?
Sebanyak 96 menara Base Transceiver Station milik BAKTI Komdigi yang tersebar di 22 kecamatan, berdasarkan data Dinas Kominfo Kabupaten Sumba Timur per 22 Januari 2026.
Media sosial apa yang dipakai penenun Sumba Timur?
Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Ketiganya dipakai untuk memperkenalkan dan menawarkan kain tenun kepada pembeli di luar daerah hingga luar negeri.
Apa bukti dampak internet bagi perajin Sumba Timur?
Usaha keluarga Mama Kiani dari Kampung Raja Prailiu berhasil tampil di pameran INACRAFT 2026 di Jakarta Convention Center pada 7 hingga 11 Oktober 2026.
Kalau kamu ingin berita terbaru di topik ini, coba ikuti label terkait di bawah.
Bisnis Online Internet UMKM Digital Sumba Timur— Ditulis oleh Chacha —
Labels: Bisnis Online, Internet, UMKM Digital, Sumba Timur
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!