Teknologi · 17 October 2026, 19:35 WIB
Ringkasan
Kasdam III/Siliwangi mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital untuk menangkal hoaks dan malinformasi. Perkembangan teknologi digital dan AI tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga risiko disinformasi.
Kepala Staf Kodam (Kasdam) III/Siliwangi Brigjen TNI Agus Bhakti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan literasi digital. Tujuannya adalah untuk menangkal hoaks dan maraknya disinformasi di media sosial. Di era digital seperti sekarang ini, kemampuan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang sangat penting bagi setiap warga negara. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat mudah menjadi sasaran penyebaran informasi palsu yang dapat merugikan banyak pihak dan merusak kepercayaan publik.
Literasi Digital Jadi Kebutuhan Urgen
Brigjen Agus menekankan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga risiko. Salah satunya adalah maraknya konten hoaks dan malinformasi yang bisa memecah belah masyarakat. Teknologi AI memungkinkan pembuatan konten yang semakin sulit dibedakan dari yang asli, sehingga literasi digital menjadi benteng pertahanan utama. Deepfake, chatbot yang menyebar informasi palsu, dan algoritma yang memperkuat gelembung filter adalah beberapa contoh ancaman yang musti diwaspadai bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.
Malinformasi Lebih Berbahaya dari Hoaks
Pernyataan tersebut mengemuka dalam acara bedah buku berjudul Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia. Agus menjelaskan secara spesifik bahaya malinformasi. Berbeda dengan hoaks biasa, malinformasi menggunakan fakta yang benar namun disajikan dengan makna yang menyesatkan. Pendekatan ini lebih berbahaya karena lebih sulit dikenali oleh masyarakat awam. Banyak korban malinformasi yang tidak menyadari bahwa informasi yang mereka terima sudah dimanipulasi untuk kepentingan tertentu yang bertentangan dengan kepentingan umum.
Sementara itu, Kepala Program Studi Pascasarjana Ilmu Politik FISIP Unpad, Ari Ganjar Herdiansah, menyoroti fenomena perang kognitif sebagai upaya terorganisir untuk memengaruhi opini publik. Literasi digital menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif ini. Dengan kemampuan memahami dan menganalisis informasi, masyarakat tidak akan mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pendidikan literasi digital harus dimulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi agar generasi muda memiliki imunitas kuat terhadap disinformasi yang semakin canggih. Pemerintah dan pihak swasta harus berkolaborasi untuk menyediakan program pelatihan yang komprehensif dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Perang Kognitif di Media Sosial
Pada akhirnya, peningkatan literasi digital merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, TNI, dan seluruh elemen masyarakat. Implikasinya adalah kita harus terus mengedukasi masyarakat tentang cara mengenali hoaks dan malinformasi. Kesimpulannya, masa depan demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat mampu berpikir kritis di era digital. Jadi, mari kita bersama-sama meningkatkan literasi digital untuk Indonesia yang lebih cerdas dan bijaksana dalam menyikapi perkembangan teknologi yang semakin canggih dan kompleks di masa depan yang akan segera datang.
Sumber Berita
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa bedanya hoaks dan malinformasi?
Hoaks adalah informasi bohong, sedangkan malinformasi menggunakan fakta yang benar namun disajikan dengan makna yang menyesatkan untuk memengaruhi opini publik.
Mengapa literasi digital penting?
Karena perkembangan teknologi digital dan AI membawa risiko disinformasi. Literasi digital membantu masyarakat memverifikasi informasi dan menghindari penyebaran hoaks.
Kalau kamu ingin berita terbaru di topik ini, coba ikuti label terkait di bawah.
Teknologi Literasi Digital Hoaks— Ditulis oleh Chacha —
Labels: Teknologi, Literasi Digital, Hoaks
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!