Teknologi · 24 October 2026, 07:17 WIB
Ringkasan
Seperempat data center di dunia berdiri di wilayah yang kekurangan air minimal sebulan per tahun, dan angkanya diprediksi naik jadi sepertiga dalam sepuluh tahun. Studi Carnegie Institution for Science memetakan 9.347 pusat data dan menemukan persaingan air dengan kota serta pertanian.
Seperempat data center di seluruh dunia berdiri di wilayah yang kehabisan air minimal satu bulan dalam setahun. Temuan itu muncul dari studi terbaru di jurnal Environmental Science & Technology yang dipimpin Carnegie Institution for Science di Amerika Serikat. Tim peneliti memetakan 9.347 fasilitas pusat data di seluruh dunia, dan hasilnya menunjukkan risiko itu diprediksi membesar seiring suhu global naik dan kebutuhan air untuk mendinginkan server ikut melonjak tajam.
Seperempat Pusat Data Berdiri di Lahan Kritis Air
Data center menyedot air dalam jumlah besar demi menjaga suhu peralatan tetap stabil dan memastikan operasional berjalan lancar. Fasilitas berukuran besar bahkan dapat mengonsumsi air per hari sebanyak kebutuhan sebuah kota berpenduduk 50.000 orang. Proses pendinginan yang mengandalkan penguapan juga membuat air tawar kerap menjadi pilihan utama, sehingga tekanan pada sumber daya alam di sekitar lokasi fasilitas ikut naik secara perlahan namun pasti.
Air yang Dibutuhkan Setara Kota Berpenduduk 50.000 Jiwa
Persaingan penggunaan air ternyata nyata dan tidak bisa dianggap remeh oleh siapa pun. Sebanyak 41 persen data center bersaing langsung dengan kota dan pemerintah daerah untuk mendapatkan pasokan air. Sementara itu, di 28 persen lokasi lainnya pertanian menjadi pengguna air utama yang berebut dengan fasilitas tersebut. Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada 523 fasilitas atau sedikit di atas 5 persen dari total yang diteliti, yang sudah mengalami kesenjangan pasokan air minimal sembilan bulan setahun.
Model iklim menunjukkan kalau suhu rata-rata global naik 3 derajat Celsius dibanding masa pra-industri, jumlah lokasi data center yang mengalami tekanan air naik menjadi 33 persen dalam waktu sepuluh tahun. Sebagian besar lokasi yang berpotensi melewati ambang batas tekanan air berada di Amerika Serikat, sementara Inggris dan Jerman diperkirakan tidak mengalami perubahan besar. Masalahnya, perusahaan teknologi besar masih enggan membuka detail konsumsi air mereka secara transparan kepada publik.
Petani dan Warga yang Paling Berisiko
Para peneliti menilai pelaporan yang lebih terbuka bisa membantu mengatasi persoalan tersebut, tetapi upaya itu kemungkinan membutuhkan intervensi regulator dan pemerintah. Tanpa pengawasan yang jelas, penggunaan air oleh industri data center akan sulit dipantau secara akurat oleh masyarakat. Ada beberapa peluang untuk meredam tekanan terhadap sumber air tawar, antara lain memanfaatkan air limbah dan air laut yang telah diolah sebagai alternatif, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan panas di dalam fasilitas.
Solusi Teknis dan Aturan yang Dibutuhkan
Artinya, persoalan ini bukan sekadar soal server mati atau layanan digital terhenti sementara. Persoalan sebenarnya adalah soal siapa yang kehilangan air ketika industri digital terus tumbuh tanpa batas. Keputusan tentang lokasi pembangunan dan tata kelola data center perlu memperhitungkan batas ketersediaan air setempat, supaya masa depan komputasi awan tidak dibayar oleh warga yang tinggal di sekitarnya.
Sumber Berita
- 1 dari 4 Data Center Kekurangan Air, Berebut dengan Petani dan Warga (CNBC Indonesia)
Pertanyaan yang Sering Muncul
Berapa banyak data center yang kekurangan air?
Sekitar 25 persen atau seperempat dari 9.347 data center yang dipetakan berada di wilayah dengan kesenjangan pasokan air minimal satu bulan per tahun, dan 523 di antaranya mengalaminya selama sembilan bulan atau lebih.
Mengapa data center membutuhkan banyak air?
Air dipakai untuk menjaga suhu peralatan tetap stabil, terutama pada proses pendinginan yang mengandalkan penguapan, sehingga fasilitas besar bisa menghabiskan air setara kebutuhan kota berpenduduk 50.000 orang per hari.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanannya?
Para peneliti menyarankan pemanfaatan air limbah dan air laut yang telah diolah, peningkatan efisiensi pengelolaan panas, serta pelaporan konsumsi air yang lebih transparan dengan pengawasan regulator.
Kalau kamu ingin berita terbaru di topik ini, coba ikuti label terkait di bawah.
Teknologi Data Center Air AI Lingkungan— Ditulis oleh Chacha —
Labels: Teknologi, Data Center, Air, AI, Lingkungan
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!