Keamanan siber · 16 October 2026, 11:37 WIB
Ringkasan
Database kependudukan nasional Denmark diretas melalui akun perusahaan TI yang memakai password 123456. Sebanyak 8,8 juta data warga dicuri secara ilegal.
Database kependudukan nasional Denmark diretas hingga menyebabkan 8,8 juta data diambil secara ilegal. Insiden ini terungkap setelah pelaku mengklaim mendapat akses database tersebut melalui akun perusahaan teknologi informasi pihak ketiga yang hanya dilindungi password lemah, yaitu 123456. Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa keamanan sistem sering kali justru jebol dari hal paling sederhana.
Perusahaan yang diduga menjadi jalur masuk hacker adalah Pays ApS, penyedia layanan TI dan data yang memungkinkan pelanggannya mengakses rujukan Registri Pusat Penduduk Denmark atau CPR. Direktur Pays ApS, Sophie Laursen, membenarkan bahwa peretas memakai akses perusahaannya ke basis data tersebut. Pemerintah Denmark juga sudah mengonfirmasi peretasan ini, yang baru terungkap 12 hari setelah kejadian ketika sebuah tagihan menunjukkan aktivitas tidak wajar dari perusahaan tersebut.
Bagaimana Bisa Terjadi?
Database CPR berisi catatan hampir seluruh warga Denmark. Dengan data sepenting itu, wajar jika sistem mewajibkan penggunanya memakai kata sandi yang lebih rumit atau setidaknya autentikasi dua langkah. Kasus ini bukan kali pertama insiden serupa terjadi. Beberapa tahun lalu, server Pusat Data Nasional Sementara Indonesia juga diretas dengan password Admin#1234. Korea Selatan bahkan pernah kehilangan 858 terabyte data akibat kebakaran di data center pemerintah.
Pemerintah Denmark sendiri mulai menangani insiden ini dengan memantau rekening para warga yang data KTP-nya dicuri. Mereka juga meminta masyarakat waspada terhadap upaya penipuan yang memakai data kependudukan. Sampai saat ini, pihak kepolisian Denmark masih menyelidiki siapa pelaku sebenarnya dan bagaimana mereka bisa mendapatkan akses penuh ke database CPR lemah password tersebut.
Pelajaran dari Denmark untuk Indonesia
Di Indonesia, serupa kasusnya, pemerintah sebenarnya sudah mewajibkan standar keamanan yang lebih ketat melalui UU PDP. Namun pada praktiknya, masih banyak lembaga yang belum menerapkan autentikasi dua langkah maupun password yang memadai. Kasus Denmark menjadi contoh nyata bahwa satu password yang lemah saja bisa merusak reputasi sekaligus membahayakan jutaan orang yang datanya tersimpan di sistem tersebut.
Lindungi Akunmu Sekarang
Dari kasus Denmark ini, pelajaran paling penting adalah jangan pernah menggunakan password yang mudah ditebak seperti 123456, password, atau qwerty. Gunakan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Aktifkan autentikasi dua langkah di semua akun penting, terutama email dan perbankan. Password manager juga bisa membantu mengelola kata sandi yang unik untuk setiap layanan tanpa harus menghafalnya satu per satu.
Kasus peretasan database Denmark adalah cermin bagi semua pihak yang mengelola data penting. Keamanan sistem tidak hanya soal teknologi canggih, tapi juga disiplin dalam hal dasar seperti password. Selama password lemah masih digunakan, celah untuk diretas akan selalu terbuka lebar.
Sumber Berita
- Password 123456 Jadi Penyebab 8,8 Juta Data Dicuri (Kompas.com)
Pertanyaan yang Sering Muncul
Berapa banyak data yang dicuri di Denmark?
Sebanyak 8,8 juta data dari database kependudukan nasional Denmark berhasil diambil secara ilegal.
Bagaimana peretas bisa masuk ke sistem?
Peretas masuk melalui akun perusahaan TI Pays ApS yang memakai password 123456.
Apa yang harus dilakukan untuk melindungi akun?
Gunakan password kuat, aktifkan autentikasi dua langkah, dan pertimbangkan password manager.
Kalau kamu ingin berita terbaru di topik ini, coba ikuti label terkait di bawah.
Keamanan Siber Password Peretasan Denmark— Ditulis oleh Chacha —
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!